KAKAWIN berakar dari kecintaan sekelompok peminat sastra terhadap karya-karya Jawa Kuno yang nyaris luput dari perhatian generasi muda. Dari obrolan santai di sebuah ruang baca kecil, lahir gagasan untuk menyusun arsip digital yang menampung terjemahan, kajian, serta rekaman pembacaan bait-bait Kawi secara terbuka.
Awal Mula Perjalanan
Nama kakawin sendiri merujuk pada bentuk puisi panjang berbahasa Jawa Kuno yang mengikuti aturan metrum India. Karya seperti Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Bharatayuddha oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, hingga Negarakertagama gubahan Mpu Prapanca menjadi fondasi awal koleksi kami. Setiap naskah tidak hanya dibaca sebagai dokumen sastra, tapi juga sebagai jendela untuk melihat cara pandang masyarakat Jawa Kuno terhadap kekuasaan, cinta, dan ketuhanan.
Misi Pelestarian
Tim KAKAWIN bekerja sama dengan filolog, pembaca lontar tradisional di Bali, serta akademisi dari berbagai universitas untuk memastikan tiap terjemahan tidak kehilangan nuansa aslinya. Kami percaya bahwa menjaga sastra Jawa Kuno bukan sekadar mengawetkan teks, melainkan merawat cara berpikir yang pernah membentuk peradaban Nusantara. Oleh karena itu, kurasi dilakukan hati-hati, disertai catatan kaki, serta rujukan ke edisi kritis yang dianggap paling otoritatif.
Ruang Belajar Bersama
Lebih dari sekadar perpustakaan daring, platform ini juga menampung kelas singkat bahasa Kawi, lokakarya menulis ulang kisah klasik, dan diskusi daring bulanan yang mengundang narasumber dari dalam dan luar negeri. Pembaca pemula bisa mulai dari pengenalan aksara, sementara mereka yang sudah terbiasa dapat langsung menyelami perdebatan tafsir pada bait-bait yang penuh simbol. Semua kegiatan dirancang agar sastra Kawi tidak terasa jauh atau menakutkan, melainkan mengundang rasa penasaran untuk digali lebih dalam.
Jika Anda ingin ikut menjaga nyala warisan ini, kunjungi KAKAWIN dan telusuri koleksi yang terus bertambah setiap bulan. Kami membuka ruang bagi siapa pun yang penasaran dengan sastra Jawa Kuno, baik sekadar membaca sambil santai, mencari bahan penelitian, maupun hendak terlibat sebagai sukarelawan penerjemah. Suara setiap pujangga lama berhak kembali terdengar, dan kami percaya perjalanan itu akan jauh lebih bermakna bila dilakukan bersama-sama.
